Menu

Proses tetap berjalan namun menjadi tua yang tetap

0 Comment

Proses menua pada manusia merupakan suatu peristiwa alamiah,
yang berarti seseorang telah melalui 3 tahap kehidupannya, yaitu anak, dewasa
dan tua. Tiga tahap ini berbeda, baik secara biologis maupun psikologis
(Mubarok, Nurul & Bambang, 2010). Depkes RI (2013) menyebutkan bahwa proses
penuaan akan menyebabkan perubahan anatomis, fisiologis dan biokimia pada
tubuh, sehingga akan mempengaruhi fungsi dan kemampuan tubuh secara
keseluruhan. Perubahan-perubahan sebagai akibat proses menua (aging process), meliputi perubahan
fisik, mental, spiritual dan psikososial (Azizah, 2011). Lansia (Lanjut Usia)
Menurut WHO adalah orang yang berusia 60-74 tahun. Pernyataan ini sesuai dengan
UU Nomor 13 tahun 1998, tentang kesejahteraan lanjut usia di Indonesia yang
menyatakan bahwa lansia adalah orang yang berusia 60 tahun keatas. 

 

Jumlah penduduk lanjut usia (lansia) sekarang ini semakin
meningkat. Hal ini tidak hanya terjadi di negara-negara maju, tetapi di
Indonesia pun terjadi hal yang serupa. Saat ini di Indonesia terdapat sekitar
10 juta orang yang berusia di atas 65 tahun (4,6% dari seluruh jumlah penduduk).
Bahkan, Indonesia termasuk salah satu negara yang jumlah penduduk lansianya
bertambah paling cepat di Asia Tenggara (Versayanti, 2008).  Pola perkembangan penduduk lansia yang ada di
Indonesia cukup unik, dari tahun ke tahun jumlahnya cenderung meningkat. Kantor
Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat (KESRA) melaporkan, jika tahun
1980 Usia Harapan Hidup (UHH) 52,2 tahun dan jumlah lansia 7.998.543 orang
(5,45%) maka pada tahun 2006 menjadi 19 juta orang (8,90%) dan UHH sekitar 67,4
tahun. Sepuluh tahun kemudian atau pada 2020 perkiraan penduduk lansia di
Indonesia mencapai 28,8 juta atau 11,34% dengan UHH sekitar 71,1 tahun
(Muhammad, 2010).  Fakta menunjukkan
bahwa tahun 2010 Usia Harapan Hidup di Indonesia semakin tinggi sekitar 71,4
tahun. Populasi lansia di Indonesia meningkat 414% dari tahun 1990 s.d. 2025.
Untuk itu diperlukan upaya agar proses menjadi tua pada lansia tetap berjalan
namun menjadi tua yang tetap sehat, berguna, produktif dan tidak menjadi beban
di masyarakat. Pelayanan kesehatan usia lanjut merupakan salah satu upaya
tersebut. 

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Pelayanan
kesehatan usia lanjut adalah pelayanan kesehatan sesuai standar yang ada pada
pedoman pada usia lanjut (60 tahun ke atas) oleh tenaga kesehatan, baik di
puskesmas maupun di posyandu lansia. Berdasarkan profil kesehatan kota Magelang
tahun 2014, cakupan pelayanan kesehatan usila di kota Magelang tahun 2014
sebesar 64,06%, lebih rendah dari cakupan tahun 2013 yang sebesar 66,88%, akan
tetapi masih lebih tinggi dari cakupan tahun 2012 yang sebesar 52,29%. Jumlah
puskesmas di kota Magelang tahun 2014 sebanyak 5 unit dan merupakan puskesmas
non perawatan, dengan rasio puskesmas sebesar 1,24 per 30.000 penduduk. Jumlah
Pustu di kota Magelang pada tahun 2014 sebanyak 12 unit. Jumlah Pusling di kota
Magelang tahun 2014 sebanyak 34 unit dengan rasio Pusling terhadap Puskesmas
sebesar 6,8.Jumlah rumah sakit di kota Magelang tahun 2014 sebanyak 8 unit,
terdiri dari RSU sebanyak 5 unit dan RSK sebanyak 3 unit. Kemudian berdasarkan
kepemilikannya terdiri dari RSU milik pemerintah sebanyak 2 unit, RSU milik
swasta sebanyak 3 unit dan RSK milik pemerintah sebanyak 1 unit serta RSK milik
swasta sebanyak 2 unit.Jumlah kelurahan siaga di kota Magelang pada tahun 2014
sebanyak 17 kelurahan (100 %), Posbindu sebanyak 7 buah dan jumlah Usaha
Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang terbanyak adalah posyandu dengan
jumlah 196 posyandu.Jumlah posyandu di kota Magelang tahun 2014 sebanyak 196
posyandu, dengan posyandu strata pratama tidak ada (0), strata madya sebanyak
20 posyandu, strata purnama sebanyak 82 posyandu dan posyandu dengan strata
mandiri sebanyak 94 posyandu.

 

Salah satu kelurahan yang terdapat posyandu lansia yang
masih aktif adalah kelurahan Gelangan. Di kelurahan tersebut terdapat 10
posyandu lansia yang masih aktif, dengan jumlah lansia sebanyak 666 orang.
Lansia terbanyak berada di RW 8, sebanyak 95 orang. Kelurahan Gelangan
merupakan daerah dengan masyarakat rata-rata berpenghasilan rendah, bahkan
beberapa sudah tidak produktif. Namun masyarakat Gelangan khusunya lansia
justru aktif dalam kegiatan Bina Keluarga Lansia dan kegiatan tersebut bisa
berjalan secara rutin bahkan bisa menempati peringkat nasional. Maka peneliti
tertarik melakukan penelitian di posyandu Ngudi Rahayu RW 8 kelurahan Gelangan
kota Magelang.Berbagai upaya telah dilakukan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah
dalam meningkatkan pelayanan kesehatan lansia. Bila dibandingkan dengan target
pelayanan kesehatan lansia sebesar 60%, maka selama lima tahun terakhir target
tersebut belum pernah tercapai.

 

Seiring
bertambahnya usia, tubuh akan mengalami proses penuaan, termasuk otak. Otak
akan mengalami perubahan fungsi, termasuk fungsi kognitif berupa sulit
mengingat kembali, berkurangnya kemampuan dalam mengambil keputusan dan bertindak
(lebih lamban). Fungsi memori merupakan salah satu komponen intelektual yang
paling utama, karena sangat berkaitan dengan kualitas hidup. Banyak lansia
mengeluh kemunduran daya ingat yang disebut sebagai mudah lupa (Sitanggang,
2002). Pada usia lanjut terjadi penurunan fungsi sel otak, yang menyebabkan
penurunan daya ingat jangka pendek, sulit berkonsentrasi, melambatnya proses
informasi sehingga dapat mengakibatkan kesulitan berkomunikasi (Mubarok, Nurul
& Bambang, 2010).

 

Permasalahan yang sering dihadapi lansia seiring dengan
berjalannya waktu, akan terjadi penurunan berbagai fungsi organ tubuh.
Penurunan fungsi ini disebabkan karena berkurangnya jumlah sel secara anatomis
serta berkurangnya aktivitas, asupan nutrisi yang kurang, polusi dan radikal bebas,
hal tersebut mengakibatkan semua organ pada proses menua akan mengalami
perubahan struktural dan fisiologis, begitu juga otak (Bandiyah, 2009).  Perubahan tersebut menyebabkan lansia
mengalami perubahan fungsi kerja otak/ perubahan fungsi kognitif. Perubahan  fungsi kognitif dapat berupa mudah lupa (forgetfulness) yang merupakan bentuk
gangguan kognitif yang paling ringan. Gejala mudah lupa diperkirakan dikeluhkan
oleh 39% lanjut usia yang berusia 50-59 tahun, meningkat menjadi lebih dari 85%
pada usia lebih dari 80 tahun (Mongisidi, 2012).  Pada fase ini seseorang masih bisa berfungsi
normal walaupun mulai sulit mengingat kembali informasi yang telah dipelajari.
Jika penduduk berusia lebih dari 60 tahun di Indonesia berjumlah 7% dari
seluruh penduduk, maka keluhan mudah lupa tersebut diderita oleh setidaknya 3%
populasi di Indonesia. Mudah lupa ini bisa berlanjut menjadi gangguan kognitif
ringan (Mild Cognitive Impairment-MCI)
sampai ke demensia sebagai bentuk klinis yang paling berat (Wreksoatmodjo, 2012).

 

Demensia merupakan kemunduran progresif kapasitas
intelektual yang disebabkan oleh gangguan pada otak (Sitanggang, 2002). Saat
ini 35,6 juta orang hidup dengan demensia di seluruh dunia. Angka ini akan
mencapai dua kali lipat setiap 20 tahun. Diperkirakan pada tahun 2050,
penderita demensia di seluruh dunia mencapai 115,4 juta orang (WHO, 2013). Di
Indonesia, prevalensi kejadian demensia (per 1000 orang) pada tahun 2005 yaitu
191,4 insiden, tahun 2020 diperkirakan akan ada 314,1 insiden dan akan meningkat
pada tahun 2050 yaitu sekitar 932 insiden. Prevalensi dan insiden demensia
maupun depresi di dunia tergolong cukup besar dengan pengeluaran biaya
perawatan yang tidak sedikit. Terdapat 35 juta jiwa lansia di dunia mengalami
demensia dan 14 juta jiwa lansia mengalami depresi (Haris, 2014). Pada tahun
2005, di Indonesia terdapat 606.100 orang mengalami demensia dengan
diperkirakan pada tahun 2020 jumlah tersebut meningkat menjadi 1.016.800 orang
dan biaya perawatan yang mencapai US$ 2.128.000 dalam 1 tahun.

 

Penurunan fungsi kognitif dengan gejala sindroma demensia,
akan berimplikasi pada pemenuhan kebutuhan dasar sehari-hari lansia yang
bersangkutan. Lansia dengan demensia sering lupa makan dan minum, atau makan
dan minum di luar jam makan, serta kurang memperhatikan kualitas makanannya
(misalnya makanan yang sudah berjamur). Kebutuhan dasar lain seperti kebutuhan
eliminasi, keamanan dan keselamatan, komunikasi dan sebagainya juga akan
mengalami hal yang serupa (Steven, 2002). Menurut Eliopoulus (2005), fungsi
kognitif di kemudian hari sangat ditentukan oleh pengalaman hidup, status
kesehatan dan gaya hidup seseorang. Gaya hidup merupakan kegiatan-kegiatan dan
rutinitas yang biasa dilakukan seseorang sehari-hari (DeLaune& Ladner,
2002). Gaya hidup yang sehat bagi lansia adalah pemenuhan kebutuhan nutrisi
yang baik, latihan dan olahraga, istirahat dan tidur yang cukup serta tidak
merokok (Wallace, 2008). Akan tetapi, gaya hidup yang dimiliki lansia ketika di
masa muda sangat beragam. Gaya hidup yang tidak sehat di masa muda dapat
mempengaruhi fungsi kognitif di kemudian hari.

 

Berdasarkan penelitian Haris (2014), tentang kualitas hidup
pada lansia dengan gangguan kognitif dan mental, menunjukkan demensia dan
depresi berdampak pada kualitas hidup. Namun penelitian tentang gaya hidup
dengan fungsi kognitif pada lansia masih sangat sedikit, maka peneliti tertarik
melakukan penelitian tentang “Hubungan Gaya Hidup dengan Fungsi Kognitif pada
Lansia di kota Magelang tahun 2017”.

 

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
deskriptif korelasi yang artinya survey atau penelitian yang mencoba
menggali bagaimana dan mengapa fenomena hal yang akan diteliti itu terjadi.
Pendekatan waktu yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross-sectional
dimana penelitian ini dengan melakukan pengukuran atau pengamatan pada saat
bersamaan antara variabel independen dan variabel dependen. Penelitian ini dilakukan di posyandu Ngudi Rahayu rw 8 kelurahan
Gelangan kota Magelang. Alat penelitian menggunakan
kuesioner, terdiri dari dua kuesioner yaitu kuesioner gaya hidup dan
kuisioner fungsi kognitif. Jumlah lansia dalam penelitian ini adalah 49 lansia, menggunakan kuisioner dengan teknik pengambilan secara simple random sampling. Hasil penelitian akan dijelaskan analisis data yang dilakukan secara
analisis univariat dan analisis bivariat. Alat analisis yang digunakan untuk
mengetahui ada tidaknya hubungan kedua variabel tersebut dilakukan dengan uji Korelasi
Spearman Rank.

 

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Distribusi Karakteristik Lansia di Posyandu Lansia Ngudi Rahayu Kelurahan Gelangan Kota Magelang Tahun 2017

Distribusi
karakteristik lansia di Posyandu
Ngudi Rahayu kelurahan Gelangan Kota
Magelang tahun 2017 meliputi karakteristik umur, jenis kelamin, pendidikan dan pekerjaan lansia.

Karakteristik Lansia Berdasarkan Umur

Karakteristik umur merupakan data
numerik yang dianalisis guna mendapatkan nilai mean, standar deviasi,  nilai minimal dan maksimal yang akan
dijelaskan dalam tabel berikut ini:

x

Hi!
I'm Alex!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out