Menu

CSR Saxon, Corporate Social Responsibility memang tidak lazim

0 Comment

CSR (Corporate Social Responsibility) atau tanggung jawab sosial adalah salah satu bentuk upaya yang mampu dilakukan oleh sebuah perusahaan sebagai dari wujud  tanggung jawab perusahaan terhadap masyarakat di lingkungan sekitar perusahaan itu berada.

Di negara-negara Anglo Saxon, Corporate Social Responsibility memang tidak lazim diatur. Hal ini disebabkan oleh kesadaran sosial dan lingkungan pengusaha di negara-negara tersebut lebih baik daripada pelaku usaha di Indonesia.Regulasi yang mengatur aspek sosial dan lingkungan dari kegiatan bisnis juga lebih baik.1

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Konsep Corporate Social Responsibility itu sendiri pertama kali dikemukakan oleh Howard R. Bowen pada tahun 1953, sebagaimana dikutip oleh Ismail Solihin dalam bukunya, menyatakan bahwa2

 

“it refers to the obligations of businessmen to purcue those policies, to make those decisions, or to follow those lines of action which are desireable in terms of the objectives and values of our society”.

 

Definisi inilah yang menjadi landasan bagi pengenalan kewajiban pelaku bisnis untuk menetapkan tujuan bisnis yang selarang dengan tujuan dan nilai-nilai masyarakat. Setelah itu, Corporate Social Responsibility secara terus menerus mengalami perkembangan konsep bahkan telah banyak menimbulkan pergeseran orientasi atas pelaksanaan CSR.3 Dalam pergaulan dunia internasional konsep CSR lebih dikenal sebagai konsep yang pelaksanaannya melalui frame work “voluntary based” dan berlangsung melalui mekanisme soft law (deregulasi) seperti code of conduct.4 Sementara di Indonesia konsep CSR, sebenarnya secara tidak langsung telah mengenal dan menerapkan konsep CSR ini dalam istilah yang berbeda, yakni gotong royong. Gotong royong itu sendiri muncul sebagai wujud interaksi sosial dalam masyarakat Indonesia, yang oleh Soerjono Soekanto5 diartikan sebagai kunci dari semua kehidupan sosial karena tanpa adanya interaksi sosial maka tidak mungkin ada kehidupan bersama dan kini secara yuridis formal diformulasikan ke dalam perundang-undangan menjadi salah satu meteri dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (selanjutnya disebut UU PT). CSR diatur dalam pasal 74 UU No. 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas yakni

1 Hendrik Budi Untung, Corporate Social Responsbility, (Jakarta: Sinar Grafika, 2008), hal. 21

2 Ismail Solihin, Corporate Social Responsibility: from Charity to Sustainability, (Jakarta: Salemba Empat, 2009), hlm. 16

3 Ibid

4 Ni Ketut Supasti Dharmawan, 2009 A Hybrid Frame work, Suatu Alternative Pendekatan CSR (Corporate Social Responsibility) Di Indonesia, Makalah pada Diseminasi Tentang Rekomendasi Bagi Pembaharuan Hukum di Indonesia, Denpasar, hlm. 1

5 Soerjono Soekanto, Sosiologi : Suatu Pengantar, Jakarta: Rajawali Press, 2000, hlm. 67

x

Hi!
I'm Alex!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out