Menu

ABSTRAK mentoleransi kebergaman multikultural. Multikultural dibentuk dari kata

0 Comment

ABSTRAK

 

Kesadaran akan multikultural sangan dibutuhkan oleh
masyarakat Indonesia dan harus diterapkan sedini mungkin, mulai usia anak-anak,
remaja, dewasa, sampai dengan usia lanjut. Kesadaran multikultural diperlukan
untuk menghindari konflik yang kerap terjadi pada masyarakat. Konflik-konflik
tersebut terjadi disebabkan karena adanya keberagaman budaya di Indonesia.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Pengajaran nilai-nilai multikultural sejak dini
dapat dimulai dari buku-buku yang dibaca anak-anak. Tidak hanya buku teks,
pengajaran nilai-nilai multikultural juga dapat ditemui pada buku cerita rakyat
yang kerapkali dibaca oleh anak-anak maupun remaja. Untuk itu, penelitian ini
dibuat untuk menganalisis nilai-nilai multikultural yang terdapat pada buku
cerita rakyat, menggunakan metode deskriptif analitik dengan pendekatan
kualitatif.

Objek penelitian ini menggunakan beberapa cerita
rakyat di Indonesia, diantaranya yaitu cerita “Asal Mula Nama
Simalungun” dari Sumatera Utara, “Asal Mula Nama Nagari Minangkabau”  (Sumatera Barat) dan dari Sulawesi Tenggara
yaitu cerita rakyat “Kisah Indara Pitaraa dan Siraapare”. Ketiga cerita
tersebut memiliki nilai –nilai multikultural yang disisipkan didalam ceritanya.

Keyword: Nilai-nilai Multikulturalisme,
Cerita Rakyat

 

 

 

 

 

 

 

A.   PENDAHULUAN

Indonesia
merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki 17.504 pulau dan
diakui secaraa internasional (UNCLOS) dan diratifikasi oleh Indonesia dengan UU
No.17 tahun 19851,
hal tersebut juga turut menjadikan Indonesia menjadi salah satu negara yang
memiliki keberagaman multikulturalisme terbesar didunia. Keberagaman ini bisa
menjadi suatu keberuntungan yang berharga jika dapat di manfaatkan dengan
tepat, dan bisa pula menjadi masalah serius jika pemanfaatannya tidak dilakukan
dengan benar dan tepat. Globalisasi yang kian hari kian pesat perkembangannya
juga menjadi faktor banyaknya multikultural yang ada di Indonesia, untuk itu
dibutuhkan pembelajaran mengenai nilai-nilai multikultural dan norma-norma
sejak dini agar dapat mentoleransi kebergaman multikultural.

Multikultural
dibentuk dari kata multi (banyak), kultur (budaya), dan isme (aliran/paham)2.  Negara
bangsa Indonesia terdiri atas sejumlah besar kelompok-kelompok etnis, budaya,
agama dan lain-lain menjadikan banyaknya keberagaman budaya yang
dimilikinya. Kebudayaan yang beragam di indonesia juga terlihat dari semboyan
Republik Indonesia “Bhineka tunggal ika” yang beratikan berbeda-beda tetapi
tetap satu jua, namun keberadaan semboyan tersebut kurang dihayati
keberadaannya saat ini.  Menurut Farida
Hanum dan Setya Raharja nilai-nilai multikultural dengan selalu menegakkan dan
menghargai pluralisme, demokrasi, dan humanisme, kemudian dengan ketiga hal
tersebut siswa diharapkan menjadi generasi yang selalu menjunjung tinggi moralitas,
kedisiplinan, kepedulian humanistik, dan kejujuran dalam berperilaku sehari-hari.

Sementara menurut menurut H.A.R Tilaar menjelaskan beberapa nilai-nilai
multikultural yang ada, sekurang-kurangnya terdapat indikator-indikator sebagai
berikut: belajar hidup dalam perbedaan, membangun saling percaya (mutual trust), saling pengertian (mutual understanding), menjunjung sikap
saling menghargai (mutual respect),
terbuka dalam berpikir, apresiasi dan interdepedensi, resolusi konflik dan
rekonsiliasi nir kekerasan. Sedangkan untuk memahami nilai-nilai multikultural
secara umum terdapat empat nilai inti (core
values) antara lain: Pertama, apresiasi terhadap adanya kenyataan
pluralitas budaya dalam masyarakat. Kedua, pengakuan terhadap harkat manusia
dan hak asasi manusia. Ketiga, pengembangan tanggung jawab masyarakat
dunia.  Keempat, pengembangan tanggung
jawab manusia terhadap planet bumi.

Menurut Nasikun Masyarakat Indonesia adalah masyarakat majemuk atau
“plural society”, bahkan
ada yang menyebut “dual
society”. Kemajemukan masyarakat Indonesia disebabkan oleh keadaan
intern tanah air dan bangsa Indonesia sendiri. Faktor-faktor penyebab
pluralitas masyarakat Indonesia adalah salah satunya adalah keadaan geografis,
yang merupakan faktor utama terciptanya pluralitas suku bangsa3.

Perbedaan atau pluralisme seperti SARA (Suku, Agama, Ras, Antar golongan) yang
kerap terjadi di Indonesia akan lebih bagus jika keberadaaannya dapat dihindari
sedini mungkin. Salah saatu aspek yang dapat dilakukan yaitu memberikan pembelajaran
mengenai nilai-nilai multikultural dapat dimulai sejak dini melalui suatu media
yang dapat menarik anak-anak dan dapat ditanamkan dalam sanubari mereka sejak
dini, sehingga keberadaan nilai-nilai multikultural tersebut dapat melekat
sepanjang hidup mereka. Media tersebut dapat berupa buku-buku bacaan anak-anak.

Cerita rakyat adalah salah satu sarana yang dapat
mengajarkan arti multikultural kepada anak-anak. Cerita rakyat merupakan kisah
atau dongeng yang lahir dari imajinasi manusia, khayalan manusia tentang
kehidupan sehari-hari. Dalam cerita rakyat inilah juga khayalan anak-anak
memperoleh kebebasan yang mutlak, karena di situ ditemukan hal-hal yang tidak
masuk akal, yang tidak mungkin ditemui dalam kehidupan seharihari, meski demikian
tidaklah dipermasalahkan apakah suatu cerita rakyat tersebut nyata atau tidak,
karena cerita tersebut merupakan sarana komunikasi, pengembangan pengetahuan
akan budaya dan pembetukan prilaku. Hal terpenting dari suatu cerita rakyat
adalah makna dan penggambaran dari cerita rakyat tersebut agar dapat dipahami
oleh anak-anak juga pesan moral yang terkandung dalam cerita tersebut.

B.    METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan
dalam penelitian ini adalah menggunakan metode deskriptif analitik dengan
pendekatan kualitatif. Penggunaan pendekatan ini disesuaikan dengan tujuan
pokok penelitian yaitu mendeskripsikan dan menganalisis mengenai nilai
multikulturalisme dalam cerita rakyat Indonesia. Sumber data yang dijadikan
objek dalam penelitian ini adalah:

1.    
Cerita Rakayat dari Sumatera Utara : Asal Mula
Nama Simalungun

2.    
Cerita Rakyat dari Sumatera Barat : Asal Mula
Nama Nagari Minangkabau

3.    
Cerita Rakyat dari Sulawesi Tenggara : Kisah
Indara Pitaraa dan Siraapare.

 

C.   PEMBAHASAN

Cerita rakyat merupakan kreasi sebuah kolektivitas
dengan corak budaya tertentu. Cerita rakyat tidak mengenal nama pengarang. Dia
merupakan produk budaya milik umum. Tidak seorangpun berhak menyatakan dia
adalah pengarang atau pemilik sebuah cerita rakyat, kecuali sebuah
kolektivitas. Isi ceritanya pun mencerminkan logika kolektivitas4.

Lebih lanjut, ahimsa juga menyatakan bahwa pemahaman atas logika cerita rakyat
akan dapat menyadarkan setiap orang bahwa cerita rakyat yang sepintas lalu
terdengar aneh dan tidak masuk akal, ternyata tidak aneh dan sangat masuk akal.

Kesadaran semacam ini akan dapat 7 membangkitkan penghargaan terhadap budaya
lain, serta menumbuhkan kesadaran multikultural pada dirinya.

Saat ini keributan
kerap kali terjadi di wilayah tertentu di Indonesia. Cerita rakyat menjadi
sumber pembelajaran untuk anak dan remaja karena mengandung pembelajaran
mengenai toleransi kebudayaan dan perbedaan-perbedaan yang ada merupakan bentuk
variasi kebudayaan yang dapat mempekaya kebudayaan yang dimiliki oleh
Indonesia. Cerita rakyat mampu mengarahkan anak-anak untuk patuh dan menerima
keberagaman budaya dan menyadari bahwa keberagaman merupakan suatu hal yang
baik. Toleransi atas perbedaan perbedaan budaya yang terdapat pada cerita
rakyat dapat ditemukan pada cerita rakyat berikut:

 

1.    
Cerita rakyat dari Sumatera Utara : Asal Mula
Nama Simalungun

Toleransi perbedaan
suku dapat terlihat dari cerita rakayat dari Sumatera Utara yang berjudul asal
mula nama simalungun. Cerita ini bercerita mengenai tiga kerajaan dengan latar
belakan marga dan wilayah yang berbeda. Kerajaan pertama bermana Kerajaan tanah
Djawo dari wilayah kampung nagur, kerajaan kedua Kerajaan Silou dari marga
purba tambak, dan Kerajaan terakhir bernama Keajaan Raya dari marga sanggih.

Ketiga kerajaan tersebut hidup dengan besahabat satu sama lain, meskipun mereka
memiliki latar belakang wilayah dan marga yang berbeda. Ketiga kerajaan ini
kerap kali saling membantu saat terjadi peperangan yang menyerang salah satu
dari tiga kerajaan ini. Hal ini dapat menjadi contoh untuk anak-anak agar dapat
bersahabat dengan anak dari suku mana saja dan kerap kali membantu satu sama
lain walau terdapat perbedaan diantaranya.

 

2.    
Cerita rakyat dari Sumatera Barat : Asal Mula
Nama Nagari Minangkabau

Pelajaran
multikulturalisme dapat ditemukan dalam cerita rakyat dari sumatera barat yang
berjudul Asal Mula Nama Nagari Minangkabau. Cerita ini bercerita mengenai
sebuah kerajaan yang bernama kerajaan pagaruyung yang dipimpin oleh seorang
raja yang adil dan bijaksana. Suatu hari kerjaan pagaruyung menerima kabar
bahwa kerajaan majapahit dari jawa akan menyerang kerajaan mereka. Kerajaan
pagaruyung tidak gentar mendengar kabar tersebut. Raja kerajaan pagaruyung
tidak mau terjadi pertumpahan darah di kerajaannya dikarenakan kerap akan
menyengsarakan rakyat-rakyatnya. Akhirnya penasihat kerajaan tersebut
mengusulkan raja kerajaan pagaruyung untuk berunding pada kerajaan majapahit.

Akhirnya kedua kerajaan itu sepakat untuk mengganti penyerangan dengan kegiatan
dengan perlombaan mengalahkan kerbau yang telah dipilih dari kerajaan
masing-masing. Dari cerita tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa menyelesaikan
masalah antar suku bisa dilakukan dengan berbagai cara tanpa harus menggunakan
kekerasan dalam penyelesaiannya.

 

3.    
Cerita rakyat dari Sulawesi Tenggara : Kisah Indara
Pitaraa dan Siraapare

Pelajaran
multikulturalisme juga dapat ditemukan dalam cerita rakyat dari Sulawesi
Tenggara yang berjudul kisah indara pitaraa dan siaraapare. Cerita rakyat ini
menceritakan tentang sepasang anak kembar yang bernama indra pitaraa dan
sirapare. Mereka terlahir dengan kris ditangan mereka yang menyebabkan ibu
mereka kesakitan saat mengandung keduanya. Saat keduanya berusia remaja,
keduanya tumbuh menjadi remaja yang nakal. Kenakalan mereka terlihat dari
kebiasaan mereka yang kerap kali merusak tanaman dan membunuh hewan ternak
penduduk sekitar menggunakan kris milik mereka. orang tua keduanya merasa
khawatir akan kebencian penduduk sekitar karena kenakalan mereka, akhirnya
mereka berdua memutuskan untuk mengutus kedua putranya untuk merantau. Saat
merantau keduanya selalu mengingat pesan kedua orangtuanya agar selalu rukun
dan saling membantu, mereka kerapkali melakukan segala hal dengan bersama-sama.

Namun suatu hari terdapat angi topan yang memisahkan indara pitaraa dan siraapare.

Indaraa pitara terhempas di suatu negeri yang terancam amukan ular raksaksa
sementata siraapare terhempas di suatu negeri yang sedang mengalami peperangan.

Indaraa pitara membatu putri yang dijadikan persembahan untuk ular di negeri
tempat ia terhempas. Ia melawan ular tersebut dengan kris miliknya. Peperangan
tersebutpun dimenangkan olehnya dan menjadikan dirinya raja karena menikahi
putri negeri tersebut. Sementara siraapare ternyata juga menjadi raja di negeri
tempat dia terhempas. Keduanya pun bertemu dan akhirnya mereka sepakat untuk
pulang kekampung halaman mereka dengan keluarga mereka masing-masing. Mereka
mengadakan pesta di kampung selama tujuh hari tujuh malam dengan warga kampung
dan meminta maaf atas kenakalan mereka ketika mereka remaja. Mereka juga
mengganti seluruh kerugian yang telah mereka lakukan saat mereka remaja kepada
penduduk kampung tersebut.

Dari cerita tersebut
setelah dianalisis dapat diambil kesimpulan bahwa walaupun kita berasal dari
latar belakang negeri yang berbeda, kita tetap saling membantu satu-sama lain.

 

D.   KESIMPULAN

Cerita rakyat Asal
Mula Nama Simalungun, Asal Mula Nama Naagari Minang Kabau dan Kisah Indara
Pitara dan Siraapare seluruhnya memiliki nilai-nilai multicultural yang
disisipkan didalam ceritanya. Ketiga cerita tersebut memiliki nilai moral untuk
saling menghargai satu sama lain, menghargai perbedaan yang ada, serta kerap
kali saling membantu walau dengan latar belakang budaya yang berbeda. Sudah
sewajibnya anak-anak dapat mengambil dan menanamkan nilai-nilai multicultural
tersebut dalam sanubari mereka, hal tersebut dapat menumbuhkan sikap toleransi
antar budaya sehingga melahirkan kedamaian di Indonesia.

1 Ridwan Lasabuda, “pembangunan wilayah pesisir dan
lautan

Dalam perspektif negara
kepulauan Republik Indonesia”. Jurnal Ilmiah Platax. Vol. 1-2. Januari 2013
diakses dari:
https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/platax/article/download/1251/1019 pada
9 Januari 2017, Pukul 8.46

2 Nurul Hidayah, “Masyarakat
Multikultural”. Diakses dari:
http://staffnew.uny.ac.id/upload/132309997/pengabdian/MASYARAKAT++MULTIKULTURAL.pdf
pada 9 januari 2018 pukul 9.03

3
Muhandis Azzuhri, “konsep multikulturalisme dan
pluralisme dalam pendidikan agama”, FORUM TARBIYAH, Vol. 10, No. 1, Juni 2012. Diakses dari:
https://media.neliti.com/media/publications/69237-ID-konsep-multikulturalisme-dan-pluralisme.pdf
pada 9 Januari 2018 Pukul 9.26

 

 

4
Ahimsa-Putra, Heddy Shri. Strukturalisme Levi-Strauss: Mitos dan Karya
Sastra. 2001. Yogyakarta: Galang Press

 

x

Hi!
I'm Alex!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out